Rabu, 15 Mei 2013
Sifat-sifat alami wanita (Suami Wajib Baca)
> Wanita Ingin Didengarkan, kalau dia sedang marah, dengarkan saja, jangan diladeni. Karena jika diladeni, maka 7 hari 7 malam pun dia tahan bertengkar. (hehehe)
> Wanita Suka Kelembutan, jangan kasar padanya, karena dia akan jadi lebih kasar padamu, dan biasanya kasarnya sesuatu yang di luar dugaanmu.
> Wanita Suka Kejutan kecil, tak perlu memberikan intan berlian, sebagai tanda sayangmu padanya, tapi kecupan lembutmu di keningnya sepulang kerja akan mengobati lelahnya seharian dengan kesibukan rumah.
> Wanita Suka Memberi Lebih, jika kau memberinya beras, dia akan memberimu nasi, maka berikan dia kasih sayang yang tulus dalam hatimu, maka dia akan bersamamu selama hidupmu.
> Wanita Suka di Perhatikan dan Memberi Perhatian, jangan abaikan saat dia ulang tahun. Tak perlu kado istimewa, tapi ucapan selamat dan kecupan di keningnya, sudah menjadi kado buatnya, bahwa kau ingat hari lahirnya, dan saat dia memberikan sesuatu padamu, sebagai tanda kasihnya, jangan abaikan, karena dia akan merasa perhatiannya sia-sia padamu.
> Wanita Suka Dipuji dan Dirayu, saat sibuk bekerja, layangkan sms mesra untuknya, atau puji dan rayulah dia, terkadang kesibukan kerja dan hadirnya anak, membuat para suami mengabaikan lupa untuk memujinya. Padahal seiring waktu brjalan, hadirnya buah hati, justru semakin mengentalkan ikatan hati suami/isteri.
> Wanita Suka Kebersihan dan Keindahan, jangan heran jika dia kadang mengomel saat kamu meletakkan perabot rumah yang habis dipakai tidak dikembalikan ketempatnya semula. Pun saat dia mengomel baju yang habis kau pakai, tidak dimasukkan dalam keranjang baju kotor, tapi di lemari. Karena dia suka segala sesuatu bersih, rapi dan indah.
> Wanita Suka Menangis, nah, acapkali sesuatu hal yang sepele aja, apalagi menyangkut perasaannya, pasti dibawanya dalam tangis. Jangan abaikan ini, karena jika kau abaikan apalagi meninggalkannya pergi saat dia sedang menangis, maka kau akan kehilangan dirinya, selama hidupmu. Tak perlu banyak kata dalam menenangkannya, cukup kau angkat dagunya, tatap matanya, tersenyum dan meraihnya dalam pelukanmu, membiarkan sisa tangisnya tumpah di sana, maka dia akan ada di sisimu selama hidupnya...
Senin, 13 Mei 2013
Renungan untuk Para Suami
... Kuserahkan Putriku Padamu ...
Bismillahir-Rah maanir-Rahim ...
Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua.
Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.
Dan waktupun berlalu…
Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.
Tapi,…
Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.
Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami.
Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.
Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.
Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.
Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.
Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.
Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri.
Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.
Wallahu a’lam bish-shawab ....
Bismillahir-Rah maanir-Rahim ...
Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua.
Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.
Dan waktupun berlalu…
Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.
Tapi,…
Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.
Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami.
Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.
Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.
Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.
Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.
Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.
Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri.
Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.
Wallahu a’lam bish-shawab ....
Senin, 06 Mei 2013
Sebuah Renungan Untuk Para Calon Istri..
Bismillah.. Semoga bisa diambil manfaatnya oleh saudari-saudari muslimahku..
(KISAH)
Sore itu,, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu.
“anty sudah menikah?”.
“Belum mbak”, jawabku.
Kemudian akhwat itu bertanya lagi “kenapa?”
hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.
“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.
“nunggu suami” jawabnya.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya
“Mbak kerja di mana?”, entahlah keyakinan apa yang meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.
“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.
Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing . Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk di luar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.
“Anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan umi ridho”, begitu katanya. Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja . Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”
Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“Kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya."
"Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. "
"Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari."
"Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya."
"Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. "
"Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan. "
"Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. "
"Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. "
"Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. "
"Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. "
"Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. "
"Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. "
"Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkannku.
Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.
Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.
Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..
Subhanallah..
Semoga pekerjaan, harta tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya, aamiin..
(KISAH)
Sore itu,, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu.
“anty sudah menikah?”.
“Belum mbak”, jawabku.
Kemudian akhwat itu bertanya lagi “kenapa?”
hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.
“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.
“nunggu suami” jawabnya.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya
“Mbak kerja di mana?”, entahlah keyakinan apa yang meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.
“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.
Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing . Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk di luar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.
“Anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan umi ridho”, begitu katanya. Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja . Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”
Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“Kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya."
"Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. "
"Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari."
"Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya."
"Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. "
"Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan. "
"Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. "
"Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. "
"Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. "
"Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. "
"Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. "
"Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. "
"Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkannku.
Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.
Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.
Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..
Subhanallah..
Semoga pekerjaan, harta tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya, aamiin..
Selasa, 19 Maret 2013
SURAT DARI TUHAN
KEPADA : KAMU
TANGGAL : HARI INI
DARI : AKU
PERIHAL : DIRI KAMU
Ini Aku,
hari ini Aku yang akan menangani semua masalahmu..
Catatan : Dan ingat,
Bila dunia ini menyodorkan masalah yg tidak dapat kau tangani sendiri, jangan berusaha
menyelesaikan masalah itu..
Tetapi, letakkanlah saja masalah itu diBox Ku untuk Ku selesaikan..
Aku akan menyelesaikan masalahmu sesuai JADWAL yang Aku tentukan sendiri..
Semua masalahmu PASTI akan Aku selesaikan, tetapi sesuai jadwal Ku, bukan
jadwalmu..
Setelah semua masalahmu kamu letakkan dalam box, janganlah kamu pikirkan & khawatirkan, Sebaliknya, fokuslah kepada semua hal2 baik yang sedang terjadi padamu sekarang..
Bila kamu terjebak kemacetan dijalan, janganlah marah, sebab masih banyak orang didunia ini
yang tidak pernah naik mobil seumur hidupnya..
Bila kamu berhadapan dengan masalah di tempat kerja, berpikirlah bahwa masih banyak orang yang menganggur bertahun2 tanpa pekerjaan..
Bila kamu sedih karena hubungan keluarga, pikirkanlah orang-orang yang belum pernah merasakan
mencintai dan dicintai..
Bila kamu merasa bosan dengan akhir minggu, pikirkanlah orang-orang yang harus lembur
malam tanpa libur untuk menghidupi keluarga & anak-anaknya..
Bila kendaraanmu mogok & mengharuskan kamu berjalan kaki, janganlah marah, pikirkanlah orang-orang cacat yang sangat ingin merasakan berjalan diatas kaki sendiri..
Bila kamu melihat di cermin rambutmu mulai beruban, janganlah bersedih, sebab mempunyai rambut hanyalah merupakan impian bagi orang-orang yang dalam perawatan kemoterapi..
Bila kamu merenungi makna hidupmu didunia ini dan merenungi apa tujuan hidup mu ini? Bersyukurlah, karena banyak orang yang tidak punya kesempatan hidup yang cukup lama untuk merenungi hidup mereka..
Bila kamu memutuskan untuk meneruskan surat ini ke orang lain, terima kasih..
Kamu telah menyentuh kehidupan mereka dalam banyak hal yang tidak pernah kamu bayangkan..
AKU tidak pernah putus menyayangimu :)
Peluk cium untukmu,
salam,
TUHAN mu
TANGGAL : HARI INI
DARI : AKU
PERIHAL : DIRI KAMU
Ini Aku,
hari ini Aku yang akan menangani semua masalahmu..
Catatan : Dan ingat,
Bila dunia ini menyodorkan masalah yg tidak dapat kau tangani sendiri, jangan berusaha
menyelesaikan masalah itu..
Tetapi, letakkanlah saja masalah itu diBox Ku untuk Ku selesaikan..
Aku akan menyelesaikan masalahmu sesuai JADWAL yang Aku tentukan sendiri..
Semua masalahmu PASTI akan Aku selesaikan, tetapi sesuai jadwal Ku, bukan
jadwalmu..
Setelah semua masalahmu kamu letakkan dalam box, janganlah kamu pikirkan & khawatirkan, Sebaliknya, fokuslah kepada semua hal2 baik yang sedang terjadi padamu sekarang..
Bila kamu terjebak kemacetan dijalan, janganlah marah, sebab masih banyak orang didunia ini
yang tidak pernah naik mobil seumur hidupnya..
Bila kamu berhadapan dengan masalah di tempat kerja, berpikirlah bahwa masih banyak orang yang menganggur bertahun2 tanpa pekerjaan..
Bila kamu sedih karena hubungan keluarga, pikirkanlah orang-orang yang belum pernah merasakan
mencintai dan dicintai..
Bila kamu merasa bosan dengan akhir minggu, pikirkanlah orang-orang yang harus lembur
malam tanpa libur untuk menghidupi keluarga & anak-anaknya..
Bila kendaraanmu mogok & mengharuskan kamu berjalan kaki, janganlah marah, pikirkanlah orang-orang cacat yang sangat ingin merasakan berjalan diatas kaki sendiri..
Bila kamu melihat di cermin rambutmu mulai beruban, janganlah bersedih, sebab mempunyai rambut hanyalah merupakan impian bagi orang-orang yang dalam perawatan kemoterapi..
Bila kamu merenungi makna hidupmu didunia ini dan merenungi apa tujuan hidup mu ini? Bersyukurlah, karena banyak orang yang tidak punya kesempatan hidup yang cukup lama untuk merenungi hidup mereka..
Bila kamu memutuskan untuk meneruskan surat ini ke orang lain, terima kasih..
Kamu telah menyentuh kehidupan mereka dalam banyak hal yang tidak pernah kamu bayangkan..
AKU tidak pernah putus menyayangimu :)
Peluk cium untukmu,
salam,
TUHAN mu
Senin, 04 Maret 2013
...
Saya sudah muak dengan beberapa perilaku.
Salah satunya, ketika ikhwan atau akhwat yang sudah menikah, datang pada yang belum. Lalu katakan:
"Kapan mau nikah?"
Atau,
"Usaha, dong!"
Atau,
"Terlalu banyak memilih, sih!"
Atau,
"Kenapa sih, kamu belum nikah?"
Atau,
"Sebenarnya mau menikah atau tidak?"
Dan berbagai macam versi lainnya. Jengah mendengarnya.
Saya ingin tahu: sejatinya, Orang-orang seperti ini, sebenarnya belum sempurna akalnya, atau memang belaka sudah mati perasaannya?
Untuk orang yang pacaran, saya lebih sering anjurkan percepatlah. Jangan ditunda. Karena dia sudah ada calon, daripada berlama-lama. Nikah belum tentu. Dosa bisa terus terjadi sewaktu-waktu.
Sedang bagi yang belum... ah, kau tidak tahu. Apakah dia sudah berusaha atau belum. Kalau kau tidak punya akses yang valid untuk mengetahuinya, jangan pelihara asumsi buruk di dalam kepala.
Jujur:
Saya muak melihat orang-orang seperti itu. Orang-orang yang sudah mengantongi kartu nikah, tapi menggunakannya dengan jalan yang salah. Sebab, mereka bisa walimah juga karena izin Allah. Bukan murni lantaran ikhtiar saja.
Kalau mereka mau bantu, bantu yang baik. Jangan cuma pasang prasangka, lalu keluar kata-kata tanpa memikirkan hati orang yang mendengarnya. Pernikahan itu persoalan sensitif. Bagi laki-laki, bisa dianggap harga diri. Bagi perempuan, itu terkait citra di masyarakat.
Yang saya ingin tanyakan:
Mereka sedang memotivasi atau menyakiti?
Jika syariah mengizinkan, ingin sekali saya pelintir lidah orang-orang itu. Ketahuilah: orang yang belum menikah bukan berarti mereka tidak berusaha. Bukan berarti tidak mau. Tapi, Allah memang belum mengizinkannya. Daripada kita malah menambah bebannya, bantu doa dan berhati-hatilah dalam berkata.
Itu juga kalau merasa masih saudara seagama. Jika tidak, lakukan apa yang kau suka. Toh, mungkin, ada orang-orang yang menganggap status walimahnya sebagai piala. Yang bisa dibangga-bangga untuk menghina dan merendahkan yang lainnya.
Tenang saja untuk ikhwan dan akhwat yang sedang berupaya. Possitive thinking ana untuk kalian. Jangan panik gara-gara kelakuan beberapa orang, yang miskin adabnya. Luruskan niat walimah kalian. Untuk Allah, bukan untuk meladeni mulut-mulut nyinyir. Yang jahat, faqir tata krama...
Minggu, 17 Februari 2013
Aku seorang muslimah hijrah
Aku mau sedikit cerita tentang pengalam hidup ku.
Kebetulan ini di ketik juga karena aku mengikuti kompetisi menulis di suatu komunitas muslimah.
Bukan untuk mengharap apa-apa dari mengikuti kompetisi tersebut, tapi lebih kepada ingin sharing masalah pengalaman dan berharap orang yg membaca nya bisa mengambil hikmah walaupun mungkin memang tidak begitu banyak dan bisa menjadikan pelajaran untuk ke depannya harus seperti apa :D
Aku seorang muslimah hijrah
Tidak pernah ada
kata menyerah untuk terus belajar dan tidak pernah ada kata terlambat untuk
terus berusaha menjadi lebih baik. Itu lah yg menjadi prinsip ku saat ini.
Mungkin dahulu ketika masa-masa muda aku pernah mengalami hal-hal yg sebenarnya
tak ku inginkan, tetapi ketika semakin bertambahnya umur dan bertambahnya juga
nilai kedewasaan, aku semakin berpikir untuk berusaha menjadi manusia yg lebih
baik dan pastinya bisa bermanfaat untuk orang lain.
Aku mau berbagi sedikit pengalaman ku. Semua
berawal ketika aku memasuki masa-masa muda di SMA (Sekolah Menengah Atas).
Sebenarnya aku tidak masuk ke SMA tapi aku masuk ke sekolah kejuruan yg lebih
banyak lelakinya dibanding perempuan, atau biasa lebih dikenal dengan STM.
Aku masuk kesana
karena memang keinginan ku sendiri, bukan dari paksaan orangtua atau mengikuti
teman. Kenapa aku lebih milih masuk ke STM? Karena aku berpikir bahwa jika aku
masuk ke SMA yg notabene jumlah perempuan dan lelaki nya sebanding, membuat ku
sangatlah tidak nyaman dan memang pada saat itu kondisi ekonomi keluarga ku
tidak memungkinkan untuk aku bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya setelah SMA
(kuliah).
Begitu banyak
hal-hal yang terjadi ketika aku memasuki masa bersekolah di STM. Mulai dari
bergaul dengan banyak teman lelaki, sampai ketika aku menggunakan hijab untuk
pertama kalinya. Memang kondisinya pada saat sekolah disana, setiap perempuan
wajib mengikuti ekstra kulikuler keputrian (rohis untuk perempuan).
Aku berhijab
untuk pertama kalinya ketika memasuki tingkat 2 dan itu pun awalnya sebenarnya
juga karena terpaksa. Terpaksa karena sudah terlajur berjanji dengan seorang
teman.
Sebenarnya waktu
berumur 9 tahun, aku sudah pernah berhijab tetapi mungkin kondisinya pada saat
itu karena masih kecil dan belum mengerti apa-apa, jadi ketika berumur 12 tahun
(atau lebih tepatnya lulus SD) aku melepas hijab karena memang masih iri dengan
teman-teman yg lain. Waktu jaman itu, kadang aku suka iri dengan teman-teman yg
rambutnya bisa dikuncir, dikepang atau hanya sekedar diberi penghias jepitan.
Kembali ke jaman
sekolah tingkat 2, aku berhijab pun juga awalnya karena pada saat itu ada
seorang teman perempuan (seorang aktivis keputrian) yg tiba-tiba memberikan aku
sebuah hijab (jilbab). Bukan hanya itu saja, ada juga seorang aktivis rohis
(seorang lelaki atau ikhwan) yg tiba-tiba juga memberikan aku sebuah buku kecil
yg judulnya “1001 alasan mengapa harus berjilbab”. Dari situ aku mulai
berpikir, apa mereka sengaja melakukan ini semua? Mengapa bisa secara bersamaan
mereka memberikan aku sebuah hadiah itu? Dan mungkin karena masih muda, emosi
masih suka labil, timbul pro kontra dalam diri aku (antara ingin berhijab dan
tidak berhijbab).
Sebelumnya aku
pun meminta ijin dengan kedua orangtua
ku, boleh atau tidak aku berhijab. Dan alhamdulillah, ijin dari bapak sudah ku
dapatkan tetapi ketika meminta ijin ke ibu, beliau membuatku agak sedikit ragu.
Sekali lagi ibu meyakinkan ku apakah aku sudah mantap dengan keputusan ku saat
itu karena ibu tidak ingin aku seperti dulu yg sudah berhijab tetapi aku lepas
lagi. Tetapi setelah aku berpikir dan yakin dengan keputusan ku saat itu, mulai
lah aku berhijab.
Kondisi pada
saat setelah berhijab membuatku menjadi nyaman karena pada saat itu sudah
jarang lelaki (lebih sering kakak kelas yg lelaki) yg terlihat menggoda atau
sekedar menyapa. Dan aku pun kemudian diberikan amanah dari sekolah untuk
membantu teman-teman keputrian dalam hal kepengurusan musholla di sekolah.
Dari situlah
awalnya aku belajar tentang islam. Aku jadi sering ikut liqo dan ta’lim. Dan
bahkan pernah ikut demo membela palestine sewaktu sedang gencar-gencar perang
melawan israel. Pokoknya aku belajar tentang banyak hal.
Tetapi setelah
lulus sekolah dan memasuki dunia kerja, semua hal yg aku pelajari itu seakan
hilang begitu saja.
Aku mulai dekat
dengan beberapa orang lelaki dan bahkan berpacaran
dengan salah satu dari mereka. Dan aku pun jadi mulai sering gonta ganti pacar.
Putus dengan yg ini, jadian dengan yg itu. Tidak hanya itu saja, aku jadi lebih
suka jalan ke mall atau bahkan sekedar nongkrong di cafe hingga larut malam
dengan teman-teman. Padahal jika di pikir-pikir, tiada guna melakukan itu
semua.
Sampai suatu
hari, aku di sidang dengan semua anggota keluarga ku (karena memang posisi nya
aku sebagai anak terkahir) karena aku ketauan berbohong oleh kedua orangtua ku.
Aku bilang ingin pergi dengan teman-teman, tetapi besoknya aku keceplosan
ngomong kalau aku pergi dengan seorang lelaki. Di situ aku di tanya
satu-persatu dengan semua anggota
keluarga dan kemudian diberikan nasehat bahwa
sebenarnya tidak baik bila seperti itu. Dan setelah kejadian itu, aku pun berjanji untuk tidak
mengulangi hal tersebut (berbohong pada orangtua).
Suatu hari, aku
berpacaran dengan seorang lelaki yg memang kebetulan tempat tinggalnya tidak
terlalu jauh dengan rumah ku. Jadi jika aku berangkat atau pulang kerja, aku sering
dianter jemput dengannya.
Tidak
lama aku jadian dengan dia, Bapak ku sakit stroke
dan harus dirawat beberapa hari di
rumah sakit. Dengan setia, dia mengantar dan menjemput aku ke rumah sakit.
Bahkan sempat menjenguk dan membawakan makanan untuk Bapak. Setelah kejadian
itu, dia pun jadi lebih sering bertemu dengan keluarga ku dan aku berpikir
mungkin dia yg akan menjadi pilihan terakhir ku untuk berpacaran karena aku sudah mulai jenuh menjalani hubungan
pacaran tersebut (kelak suatu saat bisa menikah
dengannya).
Tetapi kenyataannya
tidak seperti itu. Ternyata Bapak tidak setuju jika aku dengannya dan sampai
sekarang pun, aku tidak pernah tau mengapa Bapak tidak setuju dengannya. Beliau hanya memberikan
alasan karena Beliau lebih tau yg terbaik untukku (padahal sebelum
berpacaran dengannya, Bapak
tidak pernah sekalipun berkomentar
apa-apa dengan cowok yg sebelum dia). Dan dari semua cowok yg pernah aku
pacarin, hanya dia
yg paling baik. Tidak pernah menuntut aku untuk bisa jadi apa yg dia inginkan
karena memang dia begitu tulus menyayangi ku, makanya aku sempat punya pikiran
untuk bisa menikah dengannya dan dia pun begitu.
Tapi ada satu
hadist yg isinya “Ridho
Allah itu Ridho nya orangtua juga”. Maka dari
itu, setelah tau kalau Bapak tidak setuju jika aku dengannya, aku mulai agak
sedikit menjauh dari dia. Aku yg biasa nya mau di anter jemput kerja dengannya,
jadi jarang mau dengan alasan ingin mandiri dan tidak ketergantungan dengannya.
Dan sikap ku pun mulai berubah
jadi agak dingin dengannya.
Sejujurnya aku benar-benar tidak suka dengan kondisi seperti itu, tapi apalah
daya? Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku memang sangat menghargai
keputusan orangtua ku.
Dan hingga
akhirnya kami pun putus dengan alasan karena sikap ku berubah dan aku di sangka
selingkuh. Padahal jelas-jelas tidak ada satu bukti pun yg mengarah ke hal itu. Tapi
aku sudah terlajur yakin dengan pilihan ku
untuk memutuskan hubungan tersebut, makanya aku terima keputusannya. Padahal jelas-jelas
aku tidak terima dengan keputusannya yg dia bilang bahwa aku selingkuh.
Beruntungnya
setelah kejadian itu, aku menjadi followersnya ustad Felixsiauw di twitter.
Dari ustad dijelaskan dengan sejelas-jelasnya dan seterang-terangnya tentang bahaya
nya berpacaran dan memang ternyata aku pun mengalaminya. Dari situ pun aku mulai
berprinsip bahwa aku tidak akan mau berpacaran lg setelah nanti tiba saatnya
untuk menikah.
Tidak hanya itu
saja, perlahan-lahan aku pun mulai memperbaiki cara berhijab dan berpakaian ku.
Dulu mungkin karena awalnya aku agak terpaksa memakai hijab tersebut, antara
tidak tulus dan tidak ikhlas juga, jadi mungkin terkesan agak asal-asalan.
Tetapi sekarang setelah mengerti dan memahaminya, insyaAllah semua bermulai
dari hati dan semata-mata karena untuk Allah.
Tapi dari situ
di mulai lah beberapa ujian serta tantangannya. Orang-orang yg dulu pernah
mencoba untuk mendekati dan bahkan sudah menjauh, tiba-tiba mulai berdatangan
lagi dan meminta untuk menjalin hubungan seperti yg dulu. Atau bahkan yg
sekedar ingin bermain-main dengan perasaan ini.
Dan sekali lagi,
hampir saja hati ini sempat tergoyah dan jatuh untuk ke sekian kalinya, tetapi
ternyata Allah masih sayang pada ku. Satu persatu mereka mulai menjauh karena
setelah tau apa alasan ku untuk tidak mau berpacaran.
Hingga suatu
hari di dunia per-twitter-an, aku menemukan suatu akun milik teteh @pewski yg
isinya adalah tentang muslimah hijrah. Setelah aku baca twitter dan blog nya,
ternyata isinya subhanallah banget, membuatku sangat terharu dan makin yakin
untuk menjadi muslimah hijrah, muslimah yg terus belajar untuk berusaha menjadi
lebih baik.
Dan akhirnya aku
pun menjadi anggota #GreatMuslimah dan datang ke acara #1stGathGMIDJKT. Bertemu
dengan orang-orang yg memiliki tujuan serta keinginan yg sama untuk menjadi
lebih baik lagi ternyata menyenangkan. Saling share ilmu serta saling
mengingatkan satu sama lain.
Dan lagi-lagi
bersyukur dengan segala nikmat yg telah Allah berikan. Ternyata cinta yg Dia
berikan begitu besar, aku pun tidak mau lagi untuk menyia-nyia kan rasa
cinta-Nya tersebut dan berjanji untuk berusaha menjadi orang yg lebih baik dan lebih bermanfaat untuk orang lain :)
Rabu, 06 Februari 2013
Mensyukuri Hujan
Hujan, banjir, fenomena ini yang sedang kita alami, kita coba syukuri dengan tulisan dibawah ini semoga bermanfaat
Pembentukan Hujan
Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan..
Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, "bahan baku" hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan terlihat.
Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan,
"Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Al Qur'an, 30:48)
Kini, mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.
TAHAP KE-1: "Dialah Allah Yang mengirimkan angin..."
Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut "perangkap air".
TAHAP KE-2: “...lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal..."
Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.
TAHAP KE-3: "...lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya..."
Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, Al-Qur’an memberikan penjelasan secara runtut dan benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.
Dalam sebuah ayat, informasi tentang proses pembentukan hujan dijelaskan:
"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (Al Qur'an, 24:43)
Pembentukan Hujan Es
Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang mengejutkan berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut:
TAHAP - 1, Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
TAHAP - 2, Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.
TAHAP - 3, Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb. (Anthes, Richard A.; John J. Cahir; Alistair B. Fraser; and Hans A. Panofsky, 1981, The Atmosphere, s. 269; Millers, Albert; and Jack C. Thompson, 1975, Elements of Meteorology, s. 141-142)
Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.
Langganan:
Postingan (Atom)